…
Jam dinding bulat putih yang bertengger di dinding ya di dinding lah namanya juga jam dinding, klo di pohon namanya jam pohon kantor menunjukkan pukul 11.20 WIB. Sayup sayup dari arah sebelah kanan area gedung kantor terdengar suara tarhim menggema mendayu dayu bertalu talu menyayat kalbu lebay deh. Aku melirik arloji yang kali ini bertengger di pergelangan kiri tanganku, “hmmm…ntar aja ah, blom adzan, tanggung neh baca bukunya” gumamku sambil nerusin nge baca buku berjudul HARUS BISA – Seni Memimpin ala SBY by Dr. Dino Patti Djalal. Sekitar jam setengah 12, adzan sholat Jum’at yang pertama berkumandang, aku langsung bergegas ke tempat wudlu, ambil wudlu, n cabut ke mesjid. Nyampe di mesjid yang punya nama Takhobbar itu aku langsung masuk ke ruangan dalam, secara masih ada shaf yang kosong, biasa nya telat nya keterlauan ampe cuman kebagian di lapangan tenis. Nah, ini dia, judul tulisanku kali ini berbicara.
Sesudah shalat sunnah n bersalaman aku duduk bersila guna mendengarkan isi khotbah yang disampaikan oleh si Khotib. Semenit berlalu…lima manit…delapan menit…mata ini mulai blawur boso Indonesia ne blawur iku opo seh. Semangkin lama semangkin cinta menipis saja ini garis mata, sampai akhirnya aku merem melek sendiri di dalem mesjid. Merem melek bukan karena keenakan atau apa, tapi karena berusaha menjaga ketegapan mataku yang rasanya sungguh amat sangat nguantuuukkk sekaliiii. Biyuh, gumamku, ini mesjid ada ilmu sirep nya apa gimana yak, busyet dah ngantuk bener aku, padahal tadi berangkat baek2 saja. Sampai akhirnya khotbah selesei and sholat dimulai sampai sholatnya pun selesei aku masih dalam kondisi tidak stabil alah. Setelah wirid sejenak, kulangkahkan kaki keluar mesjid. E lhaa…lha kok seger buger, padang jingglang, sehat mandraguna, rasa kantuk yang amat sangat sewaktu didalam mesjid tadi ilang babar blas. Wah…jangan jangan emang mengandung sirep kelas kakap nih mesjid.
Sambil melangkah balik ke kantor, aku mencoba berspekulasi tentang fenomena keganjilan yang menimpa diriku. Dan akhirnya aku punya kesimpulan yang agak kurang rasional tapi lumayan bisa memotivasi diriku sendiri, yaitu:
MESJID ADALAH TEMPAT IBADAH YANG BUKAN TEMPAT SEMBARANGAN, JADI KLO KAMU PENGEN IBADAH DISITU NIATLAH BERIBADAH DENGAN BENAR. JANGANLAH MENGULUR2 WAKTU DAN ATAU MELAKUKAN HAL HAL LAIN YANG BISA MENGURANGI KUALITAS NIAT IBADAH. JIKA MELAKUKAN HAL TERSEBUT, MAKA KAMU AKAN MENGALAMI HAL HAL YANG BISA MEMBATALKAN IBADAHMU KARENA KAMU SEJAK DARI AWAL SUDAH DIITUNG TIDAK MELAKUKAN IBADAH KARENA SEJAK DARI AWAL NIATMU SUDAH LUNTUR.
Nah, seperti kasusku, aku males2an, menunda2 waktu shalat, maka di mesjid aku ngantuk dan sempet tertidur, padahal khotbah Jum’at itu adalah bagian daripada sholat jum’at itu sendiri, jadi besar kemungkinan shalat ku tidak diterima. Rugi sendiri kan?
So…how about you?
…
friday evening feat. Susu Indomilk Cokelat Anget and a stick of A Mild